BONE, LENSASATU.COM – Wisuda Institut Agama Islam Negeri ( IAIN ) Watampone sejumlah Fotografer merasa kesal dengan adanya kebijakan dari pihak panitia
Panitia dinilai pilih pilih Fotografer yang diisinkan masuk dalam lokasi kampus untuk memasang stand foto pada acara seremonial yang digelar pada Sabtu (11/11/2023) lalu.
hal itu diungkapkan H. Mansur, salah satu fotografer Bone mengatakan, sejak adanya informasi bahwa akan digelar acara Wisuda Sarjana program strata satu (S1) dan Magister Pascasrjana Strata Dua (S2) Angkatan XI tahun akademik 2023.
” Jauh jauh hari kami datang ke Kampus mengajukan permohonan secara lisan kepada pihak Panitia agar bisa diizinkan masuk di lokasi Kampus tujuannya menyediakan Booth Fotografi untuk jasa pemotretan Wisudawan dan Wisudawati yang ingin diabadikan bersama keluarganya, ” kata H. Mansur
Namun kenyataannya pihak Panitia melarang beberapa Fotografer Bone untuk masuk dengan alasan Panitia sudah menyiapkan 10 Stan Foto (Photo Booth Fotografi Wisuda) yang diketahui dikoordinir oleh Sang Fotografer Kampus Accing yang melakukan kerja sama dengan pihak Panitia dalam hal penyediaan jasa pemotretan bagi Wisudawan.
Dengan adanya mekanisme Panitia melarang Stan Foto (Photo Booth) masuk di lokasi Kampus, beberapa Fotografer menerima keputusan tersebut dan terpaksa mundur.
Ironis, belakangan diketahui sejumlah Stan Foto Booth dari Luar Kabupaten Bone diberi peluang masuk di area Kampus pada saat acara Wisuda digelar.
H. Mansur mengungkapkan kekesalannya pada pihak Panitia Wisuda IAIN Bone yang melakukan pengaturan Stand Foto tersebut
Kata H. Mansur, Sejak awal terbukanya ini acara Wisuda Dirinyalah yang lebih awal mendaftar tapi kenyataannya, Panitia disini mengatakan tidak boleh masuk karena sudah disiapkan layar 10.
” Jadi kita selaku Fotografer Bone kita mundur karena memang itu keputusan Panitia tapi ternyata ini ada tukang foto dari Makassar masuk, jadi ada apa ini kita Fotografer dari Bone dilarang masuk sedang lainnya bisa masuk, jadi ini kita dianggap dari Bone tidak bisa bayar,” ungkapnya.
Ia juga mempertanyakan pertanyakan selaku tukang foto kenapa orang Bone tidak diizinkan masuk, apa alasannya sehingga Dia tidak bisa masuk, dan dipingpong setiap hari.
“Dibandingkan dengan Kampus lainnya kita bebas masuk kenapa disini Kampus IAIN Bone lebih dipentingkan penjual buket dan pedagang kaki lima sedangkan kita sama sama mencari rezeki dan selama kita mampu bayar kami bisa bayar, ” jelasnya
Keluhan yang sama juga disampaikan Firman Fotografer Bone, menyayangkan kebijakan Panitia yang dianggap pilih kasih.
“Padahal jauh-jauh sebelumnya kami sudah bolak balik bermohon untuk masuk, tapi mekanismenya hanya 10 kuota diizinkan, padahal sebelumnya Wisuda di Kampus II di Boda kita bisa masuk, tapi ini Panitia kenapa saling tunjuk tidak ada kejelasan dan ada kesan monopoli dan pilih kasih,” Ucap Firman
Iful Salah satu Fotografer dari Makassar, mengaku bisa masuk karena adanya kebijakan dari pemegang otoritas Kampus IAIN Bone.
“Komitmen kami dengan Panitia ada kerjasama dengan Pak Accing kerjasamanya saya juga bingung hanya disuruh datang terus sama sama kasih aman acara. Tapi kalau kontribusi itu tetap pasti ada,” Kata Iful
Rektor Prof. Dr. H. Syahabuddin, M.Ag., yang dikomfirmasi menjelaskan, bahwa kebijakan tersebut dianggap terlalu ekstrim dan pundamental
” Tidak bisa begitu karena kita ini orang Indonesia kan, hal itu terlalu ekstrim namanya, ” sebut Prof. Dr. H. Syahabuddin.
Tetapi, menurut H. Syahabuddin, mungkin pihak-pihak tertentu melihat tidak ada lagi tempatnya sehingga bisa mengganggu rotasi dari pada Wisuda itu sendiri.
“Jadi aturannya tidak ada seperti itu, siapa yang mendaftar ada namanya formasinya misalnya, berapa Pos tenda-tenda disiapkan kalau melebihi kapasitas ya, kita tunda dulu,” tutur Rektor IAIN Bone
Reporter : Jumardi Ricky
Editor : Red













