DaerahSulawesi Tenggara

Erwin Usman: Joko Widodo dan Baju Buton!!

438
×

Erwin Usman: Joko Widodo dan Baju Buton!!

Sebarkan artikel ini

SULTRA, LENSASATU.COM|| UPACARA peringatan hari kemerdekaan 17 Agustus 2022 di istana negara pagi ini terasa spesial bagi warga Sulawesi Tenggara (Sultra). Khususnya warga Buton. Kenapa? Pagi ini Presiden Jokowi menggunakan baju adat yang berasal dari pulau Buton. Namanya: Dolomani.

Dolomani merupakan salah satu pakaian kebesaran Sultan Buton yang dipakai pada saat menghadiri upacara-upacara resmi kesultanan.

Pakaian ini terdiri dari atasan, celana panjang, sarung dan kopiah. Saat dikenakan, baju akan dilengkapi kotango (baju dalaman), sulepe (ikat pinggang), ewanga (keris atau badik), serta katuko (tongkat).

Lazimnya, baju ini berwarna hitam. Namun karena dikenakan dalam momen peringatan kemerdekaan RI, baju memiliki warna merah.

BACA JUGA :  Sekda Sultra Hadiri Syukuran HUT Ke-79 Korps Brimob Polri

Pakaian ini dihiasi dengan sulaman benang emas atau perak, di mana pada pinggiran baju dan kerah baju dihiasi dengan sulaman bermotif bunga Rongo–bunga khas yang tumbuh di pulau Buton.

Beberapa ornamen pakaian yang disulam dengan benang emas atau perak menujukan kebesaran dan keagungan yang dimiliki pemimpin akan berkilauan menerangi seantero negeri.

Sulur bunga menghiasi baju dan celana dolomani yang berupa bunga Rongo, menunjukkan tumbuhan menjalar dari tanah ke pepohonan yang tinggi lalu menjalar kembali ke bawah. Apa maknanya?

Ini ditamsilkan sebagai perjalanan seorang pemimpin. Pemimpin, dalam filosofis orang Buton, digambarkan sebagai: Dia yang merintis dari rakyat biasa atau dari bawah, naik jadi pemimpin, lalu akan turun kembali menjadi rakyat biasa.

BACA JUGA :  Bupati Bone Andi Asman Sulaiman Tuntaskan Janji, Ribuan Siswa Pulang Bawa Seragam Baru

Pada bagian kopiah Dolomani disulam kaligrafi “Maulana”; menunjukkan pemimpin adalah sebenar-benar pemimpin yang harus melekat sifat kepemimpinan untuk mengutamakan kepentingan rakyat bukan pribadi atau golongan.

Adapun bagian atas kopiah Dolomani terdapat sulaman Kamba Manuru. Ini merupakan nama bunga dalam bahasa setempat (Wolio), “Kamba” berarti bunga dan “Manuru” berarti “sejahtera”. Hal ini mengandung filosofis seorang pemimpin memiliki tugas utama: untuk mensejahterakan rakyatnya.

Bila dirumuskan dalam satu kalimat, makna pakaian yang dikenakan Presiden Jokowi hari ini adalah pemimpin adalah kesederhanaan. Memimpin itu, pada level mana pun, ialah amanah, bukan hadiah. Memimpin itu sacrificing, bukan demanding. Memimpin itu berkorban, bukan menuntut.

BACA JUGA :  Hari Guru Nasional, Wabup Bone: Kompetensi dan Profesionalisme Guru Harus Ditingkatkan

Karena itu, praktik lancung memperkaya diri dan lupa diri, di saat berkuasa adalah suatu pengkhianatan.

Tidak ada pemimpin hebat yang lahir di zona nyaman. Tidak ada pencapaian hebat yang tumbuh dari zona nyaman. Bahkan, leiden is lijden, memimpin itu menderita. Begitu pepatah kuno Belanda yang dikutip Mohammad Roem dalam karangannya berjudul Haji Agus Salim, Memimpin Adalah Menderita (Prisma No 8, Agustus 1977).

Dirgahayu Republik Indonesia!

Jakarta, 17 Agustus 2022.

Laporan:Muhari

Editor:Agus

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *