DaerahSulawesi Selatan

Aksi Demo Berubah Amuk Massa, Gedung DPRD Hangus dan 4 ASN Tewas

1009
×

Aksi Demo Berubah Amuk Massa, Gedung DPRD Hangus dan 4 ASN Tewas

Sebarkan artikel ini
Foto kondisi gedung DPRD kota Makassar setelah pembakaran oleh massa Aksi

Makassar, LensaSatu.com || Suasana mencekam mewarnai pusat Kota Makassar pada Jumat (29/8/2025) malam hingga Sabtu dini hari. Aksi demonstrasi mahasiswa yang awalnya berlangsung di sekitar Kantor DPRD Makassar, Jalan Andi Pangerang Pettarani Blok E No. 1-2, berubah menjadi amuk massa.

Massa membakar gedung wakil rakyat tersebut hingga menghanguskan hampir seluruh bagian gedung berikut deretan kendaraan yang terparkir di halaman.

Amuk massa ini diduga dipicu kemarahan publik atas kematian seorang driver ojek online, Affan Kurniawan, yang tewas dilindas mobil rantis Brimob saat aksi di Pejompongan, Jakarta Pusat, pada Kamis (28/8/2025) malam WIB. Kabar itu dengan cepat menyulut solidaritas dan kemarahan di sejumlah daerah, termasuk Makassar.

Insiden pembakaran DPRD Makassar memakan korban jiwa. Sedikitnya empat orang tewas, semuanya adalah Aparatur Sipil Negara (ASN).

Dua korban tewas setelah melompat dari lantai gedung DPRD dalam upaya menyelamatkan diri dari kepungan api. Mereka adalah Yakno Budi, anggota Satpol PP, dan Syaiful, Kepala Seksi Kecamatan Ujung Tanah.

BACA JUGA :  Pemilik Media HS Inisial "I"Diduga Kongkalikong dengan Politisi Soal Dana Pokir, Publikasi Daerah Jadi Bancakan

Sementara dua lainnya ditemukan tak bernyawa di dalam gedung. Mereka adalah Abay, fotografer Bagian Humas DPRD Makassar, dan Sarina, staf DPRD Makassar.

“Semoga semua bisa bertahan dan tidak ada korban kehilangan nyawa lagi,” ujar Wakil Ketua DPRD Makassar, Anwar Faruq, saat dikonfirmasi

Selain korban jiwa, sejumlah staf DPRD lainnya mengalami luka-luka dan dilarikan ke rumah sakit setelah nekat melompat dari lantai empat untuk menghindari kobaran api.

Ironisnya, kebakaran besar itu terjadi bersamaan dengan agenda rapat paripurna pembahasan APBD Perubahan 2025. Rapat tersebut dihadiri langsung oleh Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, Wakil Wali Kota Aliyah Mustika Ilham, Sekretaris Daerah Andi Zulkifli Nanda, serta sejumlah anggota DPRD.

Sekitar pukul 20.30 Wita, rapat terpaksa dihentikan setelah massa berhasil merangsek masuk ke area gedung. Para pejabat dievakuasi dalam kondisi panik. Kepala Bappeda Kota Makassar, M. Dahyal, membenarkan evakuasi tersebut.

BACA JUGA :  PC IMM Kota Kendari Tegaskan Kepemimpinan Profetik dan Luncurkan Program Kelurahan Binaan melalui DAM XXXII dan PID XIX

“Pak wali, Bu wawali, dan Pak Sekda tadi dievakuasi pakai motor. Kami saling telpon setelah keluar, semuanya selamat,” kata Dahyal.

Hingga Sabtu pagi (30/08/2025), kondisi gedung DPRD Makassar masih memprihatinkan. Bagian depan gedung tampak hangus dan gosong, dengan rangka baja atap yang menjuntai seperti hendak roboh.

Beberapa mobil dinas dan kendaraan pribadi hanya tersisa rangka besi setelah dilalap api. Bau hangus sisa kebakaran masih menyengat, sementara asap tipis sesekali mengepul dari reruntuhan. Pecahan kaca, kabel listrik yang terurai, dan puing-puing bangunan berserakan di halaman.

Sejumlah aparat kepolisian berjaga ketat di sekitar lokasi, memasang garis polisi untuk mencegah warga mendekat. Tim pemadam kebakaran masih melakukan pendinginan, khawatir bara api tersisa bisa memicu kebakaran ulang.

Beberapa warga terlihat berdiri di kejauhan, sebagian mengabadikan kondisi gedung dengan kamera ponsel, sebagian lainnya hanya terdiam menyaksikan simbol demokrasi lokal yang kini tinggal puing hitam.

BACA JUGA :  Danrem 141/Toddopuli Dampingi Pangdam XIV/Hsn Silaturahim Dengan Masyarakat Kab. Bone.

Kerugian material akibat kebakaran ini diperkirakan mencapai miliaran rupiah. Namun publik kini mempertanyakan lemahnya pengamanan di sekitar kantor DPRD.

Bagaimana massa bisa dengan mudah masuk, merusak, lalu membakar gedung, padahal saat itu sedang ada agenda resmi pemerintahan dengan kehadiran kepala daerah?

Wakil Ketua DPRD Makassar, Anwar Faruq, mengimbau masyarakat untuk menahan diri agar tidak ada korban baru.

“Kami imbau masyarakat tenang, kita dikenal saling menghargai dan menyayangi. Jangan ada tindakan anarkis, jangan terprovokasi,” tegasnya.

Meski demikian, duka yang ditinggalkan tidak kecil. Empat ASN telah kehilangan nyawa, puluhan staf trauma, dan gedung DPRD simbol demokrasi lokal tinggal puing hitam.

Peristiwa ini juga menjadi alarm keras bagi pemerintah daerah, aparat keamanan, serta masyarakat, bahwa aksi massa yang kehilangan kendali bisa berujung tragedi besar dengan korban jiwa dan kerugian publik yang tak ternilai.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *