DaerahPendidikan

Integritas di Atas Segalanya : Menimbang Ulang Figur Calon Rektor UHO

731
×

Integritas di Atas Segalanya : Menimbang Ulang Figur Calon Rektor UHO

Sebarkan artikel ini
Ketgam : Ilustrasi Skandal Perselingkuhan Kandidat Calon Rektor. Foto : Media Lensasatu. Com.

KENDARI-LENSASATU. COM. ||. OPINI :  Mahasiswa UHO sekaligus Aktivis Perempuan ini yang enggan disebutkan namanya menyikapi Persoalan Pilrek UHO. Minggu, (25/5/2025)

Dalam setiap pemilihan pemimpin di ruang akademik, satu nilai yang semestinya tidak bisa ditawar adalah integritas. Kampus bukan hanya tempat membangun pengetahuan, tetapi juga membentuk karakter, moral, dan etika publik. Maka, ketika muncul kembali nama seorang kandidat calon rektor yang dikabarkan memiliki catatan masa lalu yang kompleks, publik berhak bertanya : apakah rekam jejak personal tak lagi menjadi bagian dari pertimbangan kepemimpinan

BACA JUGA :  Sidak RSUD di Hari Pertama, Wabup Ambo Dalle : Prioritas Pelayanan Maksimal

Isu mengenai kedekatan yang melampaui batas profesional antara seorang kandidat—dengan stafnya—yang bahkan dikabarkan berujung pada kehamilan di luar pernikahan—serta dugaan relasi khusus dengan seorang dosen dari universitas lain, memang belum tentu terbukti di mata hukum. Namun demikian, dalam konteks moral dan etik seorang calon pemimpin akademik, hal-hal semacam ini tidak bisa dianggap remeh.

Pertanyaannya bukan lagi sebatas benar atau salah dalam pengertian yuridis, tetapi apakah figur yang bersangkutan masih dapat mewakili nilai-nilai luhur yang seharusnya dijunjung tinggi oleh sebuah institusi pendidikan tinggi. Publik kampus, terutama mahasiswa dan civitas akademika, berhak merasa aman, dihargai, dan percaya bahwa orang yang duduk di tampuk tertinggi tidak menyimpan sejarah yang dapat mencederai kepercayaan kolektif.

BACA JUGA :  Aksi Demonstrasi LPPH dan GPMI Desak Kejati Sultra Periksa Syahbandar Molawe

Kita perlu lebih berhati-hati saat membincang isu-isu semacam ini, tentu. Tuduhan tanpa dasar jelas adalah bentuk kekeliruan yang lain. Namun, menyuarakan keprihatinan atas nilai-nilai kepemimpinan dalam dunia akademik bukan berarti melakukan penghakiman. Justru inilah bentuk tanggung jawab moral agar kampus tetap menjadi ruang yang sehat secara struktural dan spiritual.

Pemilihan rektor bukan sekadar soal kemampuan administrasi atau program kerja empat tahunan. Ia adalah simbol dari arah nilai yang akan dijalankan kampus ke depan. Dan untuk itu, rekam jejak pribadi dan profesional tidak bisa dipisahkan. Bukan untuk mencari yang sempurna, tetapi setidaknya yang bertanggung jawab terhadap masa lalunya. *(Red)*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *