BOMBANA — LENSASATU.COM.|| Gelombang pencopotan di tubuh Tamalaki Pu’u Wonua semakin menguat. Setelah Ketua, kini giliran Sekretaris Tamalaki, Rezkhy Okriansyah Pratama, yang resmi dilengserkan. Namun, alih-alih patah arang, Rezkhy justru menegaskan bahwa pemberhentian itu bukan akhir perjuangan, melainkan awal semangat baru untuk melawan segala bentuk pengaburan identitas budaya Moronene.
“Kalau pencopotan ini adalah harga perjuangan, maka saya anggap sah-sah saja. Tidak ada perjuangan tanpa konsekuensi,” tegas Rezkhy dengan suara lantang.
Ia menekankan bahwa aksi demonstrasi yang dilakukan bersama masyarakat adat tidak pernah dimaksudkan untuk menantang kerajaan atau tokoh-tokoh Moronene, melainkan sebagai bentuk pertahanan terakhir terhadap nilai dan jati diri budaya yang kian tergerus oleh kebijakan pemerintah daerah terkait motif Rapa Dara.
“Pergerakan kemarin bukan untuk melawan tokoh, bukan menantang siapa pun. Itu justru untuk membela adat dan budaya kita sendiri. Kalau ada yang menafsirkan lain, itu karena mereka menutup mata dari substansi perjuangan ini,” ujarnya dengan nada kecewa.
Rezkhy juga menyinggung komentar-komentar liar dari sejumlah tokoh yang muncul pasca aksi demonstrasi. Namun, ia memilih menahan diri, tidak ingin terjebak dalam konflik horizontal yang justru bisa merobek persatuan masyarakat adat Moronene.
“Saya tahu betul apa yang sebenarnya terjadi. Tapi saya tidak mau dibenturkan dengan sesama Moronene. Persatuan jauh lebih penting daripada meladeni komentar yang hanya memperkeruh keadaan,” ucapnya penuh ketegasan.
Sebagai generasi muda yang ikut berada di garis depan aksi, Rezkhy menyebut pencopotannya hanyalah bagian dari upaya membungkam suara kritis. Namun, ia yakin sejarah akan menjadi saksi siapa yang benar-benar berdiri membela adat, dan siapa yang bersembunyi di balik bayang-bayang kekuasaan.
“Hari ini mungkin kami dicopot, tapi besok sejarah yang akan menilai. Kami bergerak bukan karena jabatan, tapi karena panggilan hati untuk menjaga budaya Moronene agar tidak digantikan simbol tanpa makna,” tutup Rezkhy penuh semangat perlawanan. (AO)













