Pertemuan di Cafe Antara Watampone memicu sorotan publik, di tengah proyek APBD yang diduga bermasalah dan dipertanyakan transparansinya.
Bone, LensaSatu.com || Di tengah sorotan tajam publik terhadap proyek jalan Perintis yang diduga bermasalah dikerjakan oleh PT Ridwan Jaya Lestari di jalan Reformasi depan Kantor DPRD.
Direktur perusahaan pelaksana proyek justru tertangkap kamera tengah berkumpul bersama sejumlah wartawan di Cafe Antara, Jalan Makmur, Kelurahan Watampone, Sabtu (13/12/2025).
Foto pertemuan tersebut langsung memantik polemik. Pasalnya, momen “ngopi bareng” itu terjadi ketika proyek yang dikerjakan perusahaan bersangkutan sedang ramai diberitakan lantaran diduga tidak sesuai spesifikasi teknis.
Publik pun mempertanyakan etika dan jarak profesional antara kontraktor dan insan pers.
Beberapa wartawan yang hadir memberikan penjelasan berbeda. Adri, wartawan media online, mengaku pertemuan tersebut hanya sebatas ajakan ngopi.
“Dipanggil saja ngopi,” ujarnya singkat.
Hal senada disampaikan Arur. Ia menyebut ajakan tersebut sekadar menikmati kopi dan roti gratis.
“Ajakan kopi dan roti gratis, siapa mau tolak, apalagi cafe baru,” katanya.
Namun keterangan berbeda disampaikan Agus Tapa. Ia menegaskan bahwa persoalan utama bukan sekadar ngopi, melainkan hak jawab kontraktor yang menurutnya belum diberi ruang.
“Hak jawabna tawwa, Pa Ricky tidak nakasi ruang kontraktor muat hak jawabna,” ujarnya.
Perbedaan pernyataan ini justru memperkuat sorotan publik. Di tengah proyek yang masih dipertanyakan kualitas dan pelaksanaannya, pertemuan kontraktor dengan wartawan dinilai rawan memunculkan konflik kepentingan dan memperlemah fungsi kontrol media.
Pengamat menilai, dalam situasi proyek bermasalah, semua pihak semestinya menjaga jarak profesional. Media dituntut tetap independen, sementara kontraktor seharusnya menyampaikan klarifikasi melalui mekanisme resmi, bukan lewat pertemuan informal yang berpotensi menimbulkan persepsi Negatif.
Selain itu situasi ini dinilai rawan menimbulkan konflik kepentingan. Media yang seharusnya berdiri sebagai alat kontrol justru berpotensi dipersepsikan kehilangan jarak kritis dengan pihak yang sedang disorot.
Bahkan terlebih, proyek tersebut menyangkut uang rakyat yang menuntut transparansi dan pengawasan ketat
“Kalau proyek sedang bermasalah lalu muncul foto makan bersama wartawan, wajar publik curiga. Ini soal etika dan integritas,” kata seorang aktivis Nanda Minggu (14/12/2025).
Hingga berita ini diturunkan, Direktur perusahaan pelaksana proyek belum memberikan penjelasan terbuka terkait maksud pertemuan di Cafe Antara tersebut.
Munculnya foto ini justru menambah polemik baru di luar substansi persoalan proyek. Alih-alih meredam isu, pertemuan itu dinilai semakin menguatkan dugaan publik bahwa pengawasan proyek publik kerap dihadapkan pada tarik-menarik kepentingan.
Sementara itu, publik berharap pengusutan dugaan masalah proyek tetap berjalan objektif dan transparan, tanpa bayang-bayang kedekatan yang mencederai integritas pengawasan.














