LENSASATU.COM || BONE – Mattompang Arajang, pembersihan benda pusaka peninggalan para Raja Bone pada Puncak Perayaan Hari Jadi Bone (HJB) ke 695 digelar di halaman Rumah Jabatan Bupati, Kamis (10/06/2025).
Dalam kegiatan ini Puluhan gerobak Pedagang Kaki Lima (PKL) berpartisipasi menyajikan 1000 porsi makanan gratis bagi tamu dan peserta. Para PKL itu bersyukur karena bisa kecipratan rezeki.
Berbagai macam makanan dan minuman dibagikan secara gratis Seperti Bakso, siomay batagor, gado-gado, es dawet hingga es teh. Tamu serta peserta tidak dibatasi dan bisah nambah makan sampai kenyang.
Djoko, salah satu PKL yang hadir di Acara Mattompang Arajang mengungkapkan bahwa seluruh makanan yang Ia sajikan ludes, dalam kurun waktu satu jam setelah Acara Mattompang selesai.
“Wah ramai sekali tadi, malah kita kewalahan lho, awalnya saya siapkan 100 porsi, terus udah abis aja tiba-tiba,” ungkap Djoko.
Dia mengaku senang karena sudah diundang untuk ikut berpartisipasi dalam acara Hari Jadi Bone. Sehari-hari Djoko berjualan siomay dengan berkeliling.
Menurutnya, gelaran perayaan puncak Hari Jadi Bone sangat menguntungkan PKL. Dia berterima kasih kepada Andi Asman Sulaiman Bupati Bone yang peduli dengan para PKL.
“Terimakasih Pak Bupati, saya senang sekali hari ini, semoga jadi berkah,” tuturnya.

Bupati Bone Andi Asman Sulaiman mengatakan dalam sambutannya didepan Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman, juga dihadiri puluhan bupati, anggota DPR dan warga masyarakat.
” Acara yang kita dilakukan hari ini, yaitu Mattompang Arajang, merupakan tradisi yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari warisan budaya kita di Kabupaten Bone, ” Kata Bupati Andi Asman.
Prosesi pembersihan benda pusaka yang dilakukan pada acara ini bukan sekedar ritual, tetapi juga simbol dari berapa pentingnya menjaga dan melestarikan nilai- nilai sejarah serta budaya yang telah lama tumbuh dan berkembang di Bone.
” Hari Jadi Bone bukan hanya sekedar perayaan tahunan. Pada perayaan ini, kita memperingati perjalanan panjang Kabupaten Bone, yang telah melalui berbagai Dinamika dan tantangan dalam mencapai kemajuan yang kita nikmati saat ini, ” Jelasnya.
Tradisi ini mencerminkan semangat gotong royong, kebersamaan dan rasa memiliki yang telah lama tumbuh di dalam jiwa setiap warga Bone.
Masih kata Andi Asman, Benda-benda Pusaka ini memiliki makna yang sangat mendalam bagi masyarakat Bone. Pusaka atau Arajang bukan hanya sekedar barang warisan, tetapi juga simbol dari kekuatan, kejayaan dan kebesaran Bone pada masa lalu.
” Melalui acara ini, kita diajak untuk bersama-sama menyadari bahwa kita semua adalah bagian dari sejarah panjang Bone yang harus dijaga dan diteruskan ke generasi mendatang, ” Sebutnya.
” Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa, Mattompang adalah sebuah momen penting yang dapat menguatkan ingatan kita pada sejarah untuk memperjelas masa depan, ” Pungkasnya.













