DaerahSulawesi Tenggara

Profil Kabiba, Putri Desa Lasiwa yang Mengukir Sejarah sebagai Doktor Pertama di Tanah Kelahirannya

156
×

Profil Kabiba, Putri Desa Lasiwa yang Mengukir Sejarah sebagai Doktor Pertama di Tanah Kelahirannya

Sebarkan artikel ini
Ketgam: Dosen Adimistrasi Pendidikan Universitas Muhammadiyah Kendari (UMK), Kabiba, berhasil meraih gelar Doktor (S3) pada Program Studi Manajemen Pendidikan, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang (UNM).

KENDARI – LENSASATU.COM || Dosen Adimistrasi Pendidikan Universitas Muhammadiyah Kendari (UMK), Kabiba, berhasil meraih gelar Doktor (S3) pada Program Studi Manajemen Pendidikan, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang (UNM).

Kabiba meraih gelar Doktor usai dinyatakan lulus pada Ujian Desertasi Program Doktor Manajemen Pendidikan UNM yang digelar di Ruang Sidang FIP UNM, Rabu (6/8/2026), dengan Desertasi berjudul “Kepemimpinan Kepala Sekolah Menggerakkan Kebersamaan Guru dan Orang Tua dalam Pembelajaran Anak Berbasis Pengasuhan Islami (PABKI)”.

Desertasinya itu berhasil dipertahankan di hadapan tujuh orang Dewan Penguji, di antaranya Prof. Dr. Ibrahim Bafadal, M.Pd (Promotor 1), Prof. Dr. Maisyaroh, M.Pd (Promotor 2), Dr. Teguh Triwiyanto, M.Pd (Promotor 3), Prof. Dr. Imron Arifin, M.Pd (Penguji Bidang Studi), Prof. Dr. Bambang Budi Wiyono, M.Pd (Penguji Bidang Pendidikan), Prof. Dr. Rusdinal, M.Pd (Penguji Eksternal) dan Prof. Dr. Yusuf Sobri, S.Sos., M.Pd (Ketua Sidang).

*Profil Kabiba*

Ketekunan, kerja keras, dan semangat pantang menyerah mengantarkan Kabiba mengukir sejarah sebagai putri daerah pertama asal Desa Lasiwa, Kecamatan Wakorumba Utara, Kabupaten Buton Utara, Sulawesi Tenggara, yang berhasil meraih gelar doktor. Perjalanan akademiknya menjadi bukti bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk meraih pendidikan setinggi-tingginya.

BACA JUGA :  Judi Sabung Ayam Masumpu Dibubarkan, 2 Ayam dan Sejumlah Kendaraan Roda Dua Diamankan

Kabiba lahir di Koba-Koba, Kabupaten Buton Utara, pada 27 Juni 1986. Ia merupakan anak terakhir dari delapan bersaudara seibu dan anak bungsu dari lima bersaudara kandung, pasangan almarhum La Tanga dan Wa Ode Sitaaba.

Masa kecilnya dihabiskan di Desa Lasiwa, sebuah kawasan pesisir yang saat itu masih memiliki keterbatasan akses pendidikan maupun infrastruktur. Lingkungan yang dikelilingi laut, pantai, serta perkebunan kelapa, kakao, dan jambu mete membentuk karakter Kabiba menjadi pribadi yang sederhana, mandiri, tangguh, serta memiliki kecintaan terhadap alam dan pendidikan.

Perjalanan hidupnya mulai berubah setelah menyelesaikan pendidikan di SDN 1 Laea pada tahun 1999. Karena di kampung halamannya belum tersedia jenjang pendidikan lanjutan, pada usia 12 tahun ia harus meninggalkan keluarga dan merantau ke Kota Kendari untuk melanjutkan sekolah.

Keputusan tersebut menjadi titik awal perjuangan panjang yang penuh tantangan. Jauh dari orang tua dan kampung halaman, Kabiba belajar hidup mandiri, beradaptasi dengan lingkungan baru, serta menghadapi berbagai keterbatasan. Pengalaman itu membentuk karakter disiplin, pantang menyerah, dan meyakini bahwa pendidikan merupakan jalan terbaik untuk mengubah masa depan.

BACA JUGA :  Dua Unit Eksavator Yang Diduga Tambang Ilegal Luluh Lantakan Wilayah Desa Keposang Toboali

Jenjang pendidikan formalnya berlanjut di SLTP Negeri 1 Tikep dan lulus pada tahun 2002, kemudian melanjutkan ke MAN 1 Kendari dan menyelesaikan pendidikan pada tahun 2005.

Kecintaannya terhadap dunia pendidikan membawanya melanjutkan studi Program Studi Administrasi Pendidikan Universitas Muhammadiyah Kendari, hingga meraih gelar Sarjana (S1) pada tahun 2010. Semangat belajar yang tinggi mendorongnya melanjutkan pendidikan magister (S2) di Program Pascasarjana Universitas Halu Oleo, yang diselesaikan pada tahun 2014.

Sejak tahun 2011, Kabiba mengabdikan diri sebagai dosen di Universitas Muhammadiyah Kendari. Di tengah kesibukan sebagai akademisi, ia terus meningkatkan kapasitas keilmuan dengan menempuh Program Doktor (S3) Manajemen Pendidikan, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Malang.

Keberhasilannya meraih gelar doktor tidak diperoleh dengan mudah. Selain menghadapi tantangan akademik yang menuntut konsistensi tinggi, ia juga harus membagi waktu antara pekerjaan, keluarga, dan tanggung jawab merawat orang tua.

Dalam kehidupan keluarga, Kabiba menikah dengan Junaidin, S.Pd., M.Pd dan dikaruniai tiga orang putra, yakni Muhammad Kamil, Muhammad Hafis, dan Muhammad Aqlan Dzaki. Menariknya, Kabiba dan suaminya sama-sama sedang menempuh pendidikan doktor sebagai bagian dari komitmen bersama untuk meningkatkan kualitas akademik dan pengabdian kepada masyarakat.

BACA JUGA :  Gubernur Sultra Hadiri Pawai Budaya dan Lulo Massal Dalam Rangka HUT SULTRA ke-62

Menurut Kabiba, dukungan suami, ketiga putranya, serta keluarga besar menjadi sumber kekuatan yang selalu mengiringi setiap langkahnya. Di tengah padatnya aktivitas akademik, ia tetap berupaya menjalankan perannya sebagai ibu, istri, anak, dan dosen secara seimbang.

Keberhasilan meraih gelar doktor memiliki makna yang sangat mendalam bagi dirinya. Selain menjadi pencapaian pribadi, keberhasilan tersebut juga menjadi simbol harapan bagi generasi muda di daerah terpencil bahwa keterbatasan ekonomi maupun infrastruktur bukan alasan untuk menyerah pada cita-cita.

Kabiba berharap kisah perjalanannya dapat menjadi inspirasi bagi anak-anak dan generasi muda, khususnya di Kabupaten Buton Utara dan Sulawesi Tenggara. Baginya, kesuksesan bukan ditentukan oleh tempat seseorang dilahirkan, melainkan oleh tekad, kerja keras, doa orang tua, serta keberanian untuk terus belajar sepanjang hayat.

Dengan semangat tersebut, Kabiba ingin terus memberikan kontribusi bagi pengembangan pendidikan, melahirkan inovasi dalam dunia akademik, serta menginspirasi masyarakat agar menjadikan pendidikan sebagai investasi terbaik dalam membangun masa depan.

Editor:redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *