BoneDaerah

Bupati Andi Asman Sulaiman Murka, Talut Rapuh Bisa Jadi Bom Waktu Kerugian Negara

373
×

Bupati Andi Asman Sulaiman Murka, Talut Rapuh Bisa Jadi Bom Waktu Kerugian Negara

Sebarkan artikel ini

Bone, LensaSatu.com || Pembangunan infrastruktur kembali menjadi sorotan Bupati Bone, H. Andi Asman Sulaiman, S.Sos., M.M. Pada Selasa (02/09/2025), ia turun langsung meninjau progres pekerjaan ruas jalan strategis yang menghubungkan Desa Wellulang, Kecamatan Amali, Desa Prajamaju, Kecamatan Dua Boccoe, hingga Desa Ulo, Kecamatan Tellu Siattinge.

Ruas jalan Wellulang–Ulo ini memang menjadi salah satu jalur penting penghubung antarwilayah dan menjadi perhatian utama pemerintah daerah dalam peningkatan aksesibilitas masyarakat.

Dalam kunjungannya, Bupati didampingi Kepala Dinas Bina Marga, Cipta Karya dan Tata Ruang (BMCKTR) Bone, H. Askar, S.T., M.Si. Sejak awal, Bupati menegaskan agar kualitas pekerjaan jalan maupun pembangunan talut benar-benar dijaga. Ia tidak ingin proyek besar dengan nilai anggaran signifikan justru meninggalkan kekecewaan masyarakat akibat hasil yang asal-asalan.

Pemeriksaan dilakukan dengan cermat. Tidak hanya melihat sekilas, Bupati bahkan turun langsung ke lokasi talut dan mengetes kekuatan pondasi dengan cara sederhana namun efektif. Ia mengambil skop serta ranting, lalu mencungkil bagian pondasi talut yang sudah mengering. Hasilnya mengejutkan: campuran semen yang kering justru mudah terangkat.

“Wah, eh, apa ini? Tidak bagus ini. Kurang semennya, pasirnya terlalu banyak. Warga yang kasian kalau hasilnya begini,” ucap Bupati dengan nada kecewa.

Suasana di lokasi pun seketika tegang. Bupati kemudian memanggil tukang yang bertugas. Bahkan, ia sempat menendang talut pondasi untuk membuktikan kualitasnya. Benar saja, campuran kering berhamburan, dan salah satu bagian pondasi langsung terbuka.

BACA JUGA :  Andi Muhammad Wahyu Reses, Eko Paparkan Pemberian ke Warga

“Bahaya ini, tidak ada semennya. Tidak mampu bertahan. Belum sepuluh tahun, ini sudah hancur,” tegasnya dengan raut wajah serius.

Ancaman tegas pun dilontarkan. Bupati mengingatkan agar ke depan kualitas pekerjaan harus diperbaiki. Jika dua hari ke depan kondisi serupa kembali ditemukan, ia tidak akan segan-segan mengambil langkah keras.

“Kalau besok lusa saya datang lagi dan masih begini, putus kontrak saja. Pulangkan tukang dan pekerjanya,” ujar Andi Asman lantang.

Dalam dialog langsung dengan tukang, Bupati juga mempertanyakan komposisi campuran material. Awalnya, tukang mengaku mencampur enam gerobak pasir untuk satu zak semen. Namun kemudian diralat, bahwa yang dimaksud adalah enam ember air. Pengakuan ini justru membuat Bupati semakin geram.

“Ini pantas rapuh, enam banding satu. Harusnya tiga banding satu: tiga gerobak pasir, satu zak semen. Jangan asal dikerja begitu,” tegasnya.

Tidak berhenti di situ, Bupati Bone juga menghampiri sejumlah pekerja lain yang tengah mengerjakan pengerasan jalan. Ia meminta agar pekerjaan dihentikan sementara hingga campuran material diperbaiki. Bagi Bupati, kualitas pembangunan adalah harga mati.

Ia kembali mengingatkan bahwa pembangunan jalan bukan hanya sekadar memenuhi target proyek, tetapi merupakan tanggung jawab besar kepada masyarakat. “Saya minta kualitasnya dijaga, agar talut dan jalan ini tidak cepat rusak. Jangan asal dikerja. Saya mau hasil yang bisa bertahan lama dan bermanfaat bagi warga,” kata Andi Asman.

BACA JUGA :  Pangdam Tekankan Slogan 6K di Hati Kita

Diketahui, proyek rehabilitasi jalan Wellulang–Ulo sepanjang 2 kilometer 165 meter ini dikerjakan oleh PT Amal Loponindo. Saat ini, pekerjaan tengah memasuki tahap pengerasan dan pembangunan talut. Namun Bupati menekankan bahwa seluruh proses harus tetap memperhatikan standar kualitas. “Saya mau jaga kualitasnya. Jangan sampai anggaran besar tidak menghasilkan manfaat maksimal,” ujarnya.

Sejak awal kepemimpinannya, Andi Asman memang menjadikan pembangunan infrastruktur jalan sebagai prioritas. Tercatat, sudah ada 11 ruas jalan yang dikerjakan dengan total anggaran Rp80 miliar. Angka ini melonjak jauh dibanding anggaran sebelumnya yang hanya berkisar Rp6,5 miliar.

Menurutnya, peningkatan alokasi anggaran ini bukan sekadar angka, tetapi komitmen pemerintah daerah bersama wakil bupati untuk menghadirkan pembangunan yang benar-benar dirasakan masyarakat. Jalan yang baik diharapkan mampu membuka akses ekonomi, mempermudah distribusi hasil pertanian, serta mempercepat mobilitas warga.

Namun, Bupati kembali mengingatkan agar pekerja, kontraktor, hingga dinas teknis tidak lengah. “Anggaran sudah kita tingkatkan. Tanggung jawab kita sekarang memastikan kualitas pekerjaan juga meningkat. Jangan sampai masyarakat yang akhirnya menanggung rugi,” pungkasnya.

Sejumlah warga yang menyaksikan langsung sidak Bupati memberikan tanggapan beragam. Sebagian besar mengaku lega karena orang nomor satu di Bone turun langsung mengawasi pekerjaan jalan.

“Kami senang sekali Pak Bupati mau periksa langsung. Soalnya jalan ini sangat penting untuk kami. Kalau dikerja asal-asalan, masyarakat juga yang rugi. Bagus kalau beliau tegas sama kontraktornya,” ujar Basri, warga Desa Ulo, Kamis (04/09/2025).

BACA JUGA :  Jelang Ramadan, Sekda Koltim Pimpin Apel Gelar Operasi keselamatan Anoa 2026

Hal senada disampaikan Nurhayati, warga Kecamatan Dua Boccoe. Ia menilai langkah Bupati menunjukkan keberpihakan kepada masyarakat kecil.

“Kalau kualitasnya jelek, baru beberapa tahun sudah rusak lagi. Padahal jalan ini jalur utama petani angkut hasil panen. Kami sangat apresiasi sikap Pak Bupati yang tidak segan marah kalau pekerjaannya tidak bagus,” ucapnya.

Sementara itu, beberapa warga juga menyoroti peran kontraktor yang dianggap kurang serius. “Kontraktornya jangan hanya cari untung. Pemerintah sudah kasih anggaran besar, harusnya pekerjaan juga profesional. Kalau begini terus, lebih baik kontraknya dicabut saja,” kata Rahman, warga Kecamatan Amali.

Jika mutu pekerjaan jalan dan talut tetap buruk, risiko yang muncul bukan hanya merugikan masyarakat, tetapi juga keuangan negara. Jalan yang cepat rusak akan menuntut perbaikan dini, sehingga anggaran baru harus kembali digelontorkan. Dengan kata lain, dana miliaran rupiah yang sudah digelontorkan akan terbuang sia-sia tanpa manfaat jangka panjang.

Selain itu, proyek infrastruktur yang tidak sesuai standar berpotensi menimbulkan temuan aparat pengawas, baik dari inspektorat daerah maupun lembaga pemeriksa eksternal. Jika terbukti ada kelalaian kontraktor, bukan tidak mungkin akan berujung pada pemutusan kontrak, denda, hingga proses hukum terkait indikasi kerugian negara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *