LENSASATU.COM-BONE|| Andi Akmal Pasaluddin Anggota DPR RI Komisi lV yang aktif memperjuangkan Nasib petani menolak tegas Rencana Badan Urusan Logistik (Bulog) untuk melakukan impor beras
Rencana itu disampaikan melalui pernyataan Direktur Utama Bulog Budi Waseso agar pemerintah melakukan impor beras sangat disayangkan.
Komitmen pemerintah melalui Bulog dan Kementan untuk menyerap gabah patut dipertanyakan, janji membeli gabah juga ternyata isapan jempol.
Neraca beras keserplus data itu dari BPS, klw tidak percaya data nda usah ada BPS, jangan sampai stok dibulog itu menipis 400 ribu ton solusinya impor
Padahal menurut Andi Akmal, seharusnya Bulog memaksimalkan penyerapan dalam negri dengan harga yang Fleksibel.
“Kalau harga sekarang kalah dengan pedagang mana mau petani jual ke Bulog, karena harganya rendah.” Ungkapnya
Dikatakan Andi Akmal, Kemarin sudah ada keputusan pemerintah dengan fleksibilitas, makanya sekarang dorong lah Bulog untuk maksimal menyerap beras dalam negeri
Memang ada aturan bahwa cadangan beras pemerintah itu minimal 1,25 juta ton sampai 5 juta ton. Kalau sekarang ini tinggal 460 Ribu ton di gudang Bulog. Hal ini diungkapkan setelah membuka kegiatan bimtek disalah satu hotel di Bone, selasa (22/11/2022).
Tapi kata dia inikan cerita berulang pada saat mau pemilu kemarin. Pada Tahun 2018 sebelum pemilu, kita impor 2.253.824 ton beras dengan nilai mencapai USD 1,037 miliar. ternyata yang kita impor itu beras rusak, beras yang udah mau rusak di negerinya dibeli oleh kita dengan harga pasti murah
” Di Vietnam itu setiap 4 bulan itu beras lama dikeluarkan dan digantikan dengan beras baru, nah kita ini dijadikan pelemparan.” Tuturnya
Ia juga mengungkapkan bahwa Beras yang kemarin di impor itu rusak sampai 500 ribu ton coba dibayangkan kerugian Negara berapa Ratus juta. Yang untung siapa ya importir dan mafianya yang untung.
Masi kata Andi Akmal, Selain devisa negara kita terkuras ini efek impor mengakibatkan harga dalam negri akan anjlok Karena banyak suplai sedangkan permintaan sedikit harga pasti jatuh dan yang dirugikan pasti petani kita.
“Nah dari enam juta tong itu surplus ini harusnya di maksimalkan, menurut juga datanya BPS 3 juta ton itu dipegang oleh rumah tangga bahwa di setiap rumah itu ada beras minimal 10 kg.” Ucapnya
Jangan sampai ini perkondisian karena menurut AAP, produksi kita berlebih kenapa kita harus impor solusinya bukan itu, seharusnya belilah beras petani dengan harga tinggi minimal sama dengan pedagang.
“Pedagang beli beras petani 11 ribu Bulog juga harus beli dengan harga 11 ribu, jangan beli di harga 10 ribu tidak mungkin petani mau jual kalau harga Bulog dibawah harga.” Tegasnya.
Reporter : Jumardi Editor : Agus














