KENDARI—LENSASATU.COM.|| “Pertama, kita mengakui adanya Tuhan Yang Maha Esa, memberi kebebasan kepada setiap insan untuk beribadah, menjaga harmoni dalam perbedaan. Kedua, kita diminta menjunjung tinggi kemanusiaan, menghargai hak setiap jiwa, berlaku adil, dan beradab dalam hidup bersama. Ketiga, kita belajar menempatkan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi, menjaga persatuan di tengah kebhinekaan. Keempat, kita diajarkan tentang demokrasi, musyawarah, mufakat. Kelima, kita bermimpi tentang keadilan sosial, kesejahteraan, pemerataan, hukum yang berpihak pada seluruh rakyat.
Namun hari ini, semua itu terasa berbanding terbalik. Sila keempat seolah mati suri. DPR yang seharusnya mewakili suara rakyat, kini kerap menutup mata dan telinga rapat-rapat, melahirkan undang-undang kontroversial (RUU Polri, UU TNI, dll), berjalan beriringan dengan oligarki dan politik uang. Aspirasi rakyat kecil hanya terdengar bila sudah viral, sementara keputusan penting negara lebih sering berpihak pada elit. Meski begitu, masih ada mahasiswa, masyarakat sipil, dan jurnalis yang berdiri di garis depan, mengawal demokrasi dengan suara dan keberanian.
Sila kelima pun kian jauh dari nyata. Kesenjangan ekonomi merajalela, segenggam orang menguasai kapital, sementara rakyat kecil bertahan di bawah beban hidup dan pajak yang tak masuk akal. Pendidikan dan kesehatan masih timpang, korupsi tetap bercokol di ruang pelayanan. Bantuan sosial ada, namun sering dipolitisasi. Dan aparat, yang mestinya melindungi yang tertindas, kerap berubah menjadi mesin represif yang melindas. Demonstrasi dibubarkan dengan gas air mata, pentungan senjata, penangkapan sewenang-wenang, bahkan pembunuhan dengan rantis yang menabrak tubuh warga sipil biasa. Hukum masih tetap saja tumpul ke atas, tajam ke bawah.
Maka, apa arti Pancasila bila hanya dibacakan setiap Senin pagi? Kita hafal di luar kepala, tapi lupa di dalam hati. Sila keempat kini hanya panggung sandiwara. Rakyat bersuara, tapi mufakat sudah ditulis jauh sebelum musyawarah. Sila kelima terasa seperti janji kosong. Harga hidup menekan, kesenjangan melebar, hukum tunduk pada penguasa. Aparat yang mestinya menjaga, justru menebar huru hara. seakan menjadi wajah baru dari “keamanan”. Apa bedanya dengan ludah yang dilontarkan? Basah sesaat, lalu kering, hilang, tak meninggalkan arti.
Indonesia tidak kekurangan orang yang hafal Pancasila. Pancasila seharusnya bukan sekadar teks yang dibaca, dihafal, melainkan nafas dalam setiap keputusan para pemimpin kita, cermin keadilan dalam kehidupan rakyat hari ini. Jika tidak, bangsa ini hanya berdiri di atas kata-kata, bukan pada nilai sejati yang pernah kita ikrarkan bersama. Dikarenakan pesimis rasa ini untuk melawan, dan apatis telah meracuni tubuh mahasiswa. maka MARI KITA SAMA SAMA UCAPKAN RIP DEMOKRASI.!!!!. ”
Penulis = Ahmad Baiquni
Editor = Al Ghazali














