Kendari – LENSASATU.COM||Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sulawesi Tenggara menggelar pengajian rutin sekaligus buka puasa Asyura bersama di Aula lantai 4 Um-Kendari, sabtu (5/7/2025). Kegiatan ini mengangkat tema “Kalender Hijriyah Dasar dan Urgensinya dalam Upaya Mewujudkan Masyarakat Islam yang Sebenar-benarnya”, dengan fokus sosialisasi Filosofi Kalender Hijriyah Global Tunggal (KHGT) dalam perspektif Muhammadiyah.
Kegiatan tersebut diinisiasi oleh Majelis Tabligh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sultra dan menghadirkan dua pemateri utama, yakni Drs. H. Syamsu, M.Pd (Wakil Ketua Majelis Tabligh PWM Sultra) dan Dr. H. Muh. Alifuddin, M.Ag (Sekretaris PWM Sultra).

Filosofi Kalender Hijriyah Global Tunggal (KHGT)
Dalam pemaparannya, Drs. H. Syamsu, M.Pd menjelaskan bahwa Kalender Hijriyah Global Tunggal merupakan ikhtiar Muhammadiyah untuk menyatukan penanggalan umat Islam di seluruh dunia, sehingga ibadah-ibadah mahdhah yang terikat waktu seperti Ramadan, Idul Fitri, Idul Adha, dan Asyura dapat dilaksanakan secara serentak.
“Filosofi KHGT ini berangkat dari perintah Al-Qur’an dalam QS. At-Taubah: 36 dan QS. Yunus: 5. Allah menjadikan matahari dan bulan sebagai ukuran waktu. KHGT adalah bentuk syiar Islam untuk mengokohkan ukhuwah umat Islam dan menegakkan syariat secara global,” ungkap Syamsu, mengacu pada Pedoman Hisab Muhammadiyah.
KHGT menggunakan prinsip hisab hakiki wujudul hilal, metode hisab yang dipedomani Muhammadiyah untuk memastikan awal bulan secara pasti, ilmiah, dan universal. Dengan metode ini, perbedaan penetapan awal bulan Hijriyah antarnegara dapat diatasi, dan umat Islam dapat bersatu dalam satu kalender yang sama.
“Islam harus menjadi rahmatan lil alamin dan menjadi rujukan bagi seluruh umat Islam, bukan dipahami secara lokal atau parsial,” tambahnya.

Sementara itu, Dr. H. Muh. Alifuddin, M.Ag menekankan bahwa KHGT adalah salah satu bentuk ikhtiar dalam membangun persatuan umat. Kalender ini tidak hanya terkait teknis penanggalan, tetapi memiliki nilai strategis dalam menguatkan ittihad (persatuan) dan ta’awun (saling membantu) umat Islam.
Lebih lanjut, ia mengingatkan pentingnya pemahaman Al-Islam Kemuhammadiyahan (AIK) bagi setiap warga dan kader Muhammadiyah.
“Warga Muhammadiyah harus benar-benar memahami dengan benar tentang Al-Islam Kemuhammadiyahan agar bisa ditempatkan pada amal usaha Muhammadiyah atau sebagai pengajar di amal usaha muhammadiyah (AUM)Kalau tidak memahami AIK dengan baik, lebih baik tak perlu masuk dalam amal usaha Muhammadiyah,” tegasnya.
Menurut Alifuddin, penguatan AIK juga adalah pondasi penting dalam mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya, sejalan dengan cita-cita besar Muhammadiyah dalam gerakan dakwah dan tajdid (pembaharuan).
Pengajian dan buka puasa Asyura ini diikuti unsur pimpinan wilayah muhammadiyah, unsur pimpinan universitas muhammadiyah kendari serta warga Muhammadiyah Sultra, kader, dan simpatisan. Para peserta mengikuti kegiatan dengan antusias dan berharap KHGT dapat segera diimplementasikan secara luas sebagai wujud penyatuan umat Islam dalam bingkai waktu yang sama.
Reporter: Azman
Editor: Red














