KENDARI-LENSASATU. COM. ||. Warning : Simbol – One Piece – dalam Bingkai Kemerdekaan. Fenomena pengibaran bendera One Piece di hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-80 tahun 2025 menjadi topik hangat di media sosial.
Banyak warga +62, terutama kaum muda, mengibarkan bendera Jolly Roger Topi Jerami dari anime One Piece bersamaan maupun tak bersamaan dengan Bendera Merah Putih. Ada beberapa alasan di balik aksi ini
– Ekspresi kreativitas dan kebebasan : Generasi muda melihat pengibaran bendera One Piece sebagai bentuk ekspresi kreativitas dan kebebasan dalam menyambut hari kemerdekaan.
– Simbol perlawanan terhadap Ketidakadilan : Bagi sebagian orang, bendera One Piece melambangkan perjuangan melawan ketidakadilan, penindasan, dan otoritas korup, yang relevan dengan kondisi sosial-politik saat ini.
– Kekaguman terhadap nilai-nilai universal : One Piece dianggap menyuarakan nilai-nilai universal seperti kesetiaan, pengorbanan, keadilan, dan kebebasan, yang mungkin dirasa lebih hidup dan relevan dibandingkan wacana kebangsaan yang kering.
Namun, fenomena ini juga memicu perdebatan sengit tentang nasionalisme dan etika sosial. Beberapa pihak khawatir bahwa pengibaran bendera One Piece dapat dianggap sebagai bentuk pelecehan terhadap simbol negara dan memecah belah bangsa.
Di sisi lain, ada pendapat bahwa aksi ini dapat dilihat sebagai bentuk nasionalisme baru di era digital, di mana kaum muda menyuarakan aspirasi mereka untuk Indonesia yang lebih adil dan inklusif .
Dalam menanggapi fenomena ini, pemerintah dan masyarakat perlu mendengar suara di balik aksi ini dan membuka dialog lintas generasi untuk memahami makna simbol negara dan ruang untuk menampung aspirasi kaum muda.
Terlepas fenomena tersebut wujud nasionalisme harus tetap tumbuh kapanpun dan dimanapun dalam darah juang anak muda. Sejatinya jiwa muda adalah jiwa bangsa jika jiwa mudah itu mati maka matilah bangsa ini.
Membuka hati menolak lupa darah juang para pahlawan :
Cinta sejati bukan tentang memiliki tetapi tentang merawat dan menjaga. Bangsa ini harus dirawat dengan semangat kolaborasi bukan dengan cacian dan kebencian.
Generasi muda di tengah kondisi politik bangsa harus mampu bernalar dengan proposional dan tidak terjebak dalam arus digitalisasi dalam mengikuti _tren_. Seyogyanya sudut pandang harus mampu memetakan dan tidak mendeskriditkan secara menyuluh.
Pahlawan nasional wajib untuk dikenang, dalam merawat ingat bahwa ada darah, keringat dan air mata untuk mengibarkan bendera merah-putih. Momentum itu kini tiba, mari kibarkan simbol kecintaan dalam pengibaran bendera merah-putih sebagai wujud tanda cinta tersebut.
Apapun keadaan dan kondisinya tetap cintailah negeri ini. Totalitas untuk Indonesia Raya.
Penulis : Azman
Editor : Red













