Daerah

Wagub Sultra Ungkap Empat Karakter Utama yang Dibentuk dari Pengalaman Kerja di Luar Negri

361
×

Wagub Sultra Ungkap Empat Karakter Utama yang Dibentuk dari Pengalaman Kerja di Luar Negri

Sebarkan artikel ini
Ketgam: Wakil Gubernur Sulawesi Tenggara, Ir. Hugua, M.Ling, menjadi narasumber pada kegiatan Sosialisasi Penyebarluasan Informasi Penempatan dan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia

Kendari – LENSASATU.COM || Wakil Gubernur Sulawesi Tenggara, Ir. Hugua, M.Ling, menjadi narasumber pada kegiatan Sosialisasi Penyebarluasan Informasi Penempatan dan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia yang diselenggarakan Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Sulawesi Tenggara di Hotel Kubah 9 Kendari, Senin (17/11/2025).

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan pemahaman dan kesiapan generasi muda Sulawesi Tenggara dalam menghadapi peluang kerja luar negeri, sejalan dengan visi pembangunan menuju Indonesia Emas 2045. Pada kesempatan tersebut, Wakil Gubernur membawa materi berjudul Peran Kawula Muda pada Indonesia Emas 2045 pada Sosialisasi Calon Pekerja Migran Indonesia BP3MI Tahun 2025.

Dalam penyampaiannya, Wakil Gubernur Sultra Ir. Hugua memilih untuk tidak memberikan materi teknis, melainkan berbagi pengalaman nyata yang ia temui di lapangan. Ia mengawali ceritanya tentang kunjungannya ke Banten dua bulan lalu, saat mengecek kesiapan program nasional Makanan Bergizi Gratis (MBG). Menurutnya, kebutuhan besar bahan pangan dalam program tersebut memerlukan dukungan industri hulu seperti peternakan ayam.

BACA JUGA :  Kafilah MFQ MTQ XXXII Putra-putri Kab.Bone Gagal Masuk Final

Di salah satu peternakan yang dikunjunginya, Hugua menemukan permasalahan klasik: proses pemotongan ayam yang masih manual sehingga membutuhkan banyak tenaga kerja dan mengurangi keuntungan. Dari situ ia mencari solusi, hingga bertemu dengan seorang perakit mesin pemotong ayam otomatis di Banten. Laki-laki tersebut, yang menggunakan istilah teknik sangat meyakinkan, ternyata bukan lulusan perguruan tinggi, melainkan lulusan SMK.

Yang mengejutkan lagi, kata Hugua, mesin buatannya bernilai tinggi, antara Rp600 juta hingga Rp1,2 miliar, dan ia mampu memproduksi hingga empat unit per bulan. “Pendapatannya… ya luar biasa,” ujar Wakil Gubernur dengan nada kagum.

Saat ditanya bagaimana ia memahami teknologi dengan begitu baik, perakit itu menjelaskan bahwa ia dulunya adalah mantan pekerja migran (TKI) di Timur Tengah. Wawasan dan kecakapannya berkembang setelah bekerja di luar negeri serta terpapar lingkungan yang lebih maju secara teknologi.

Wakil Gubernur menegaskan bahwa pengalaman tersebut menunjukkan pekerja migran memiliki potensi besar, tidak hanya untuk meningkatkan taraf hidup pribadi, tetapi juga memajukan industri di tanah air. “Pekerja migran itu keren. Mereka keluar negeri bukan hanya untuk bekerja, tetapi membawa pulang wawasan, keterampilan, dan cara pandang baru,” jelasnya.

BACA JUGA :  Kampanye Akbar, Andi Rio-Amir Serukan PBB Gratis Didepan Belasan Ribu Warga Hadir

Hugua kemudian membagikan kisah perjalanan pribadinya saat belajar koperasi di kawasan Alpen selama tiga bulan dan kunjungannya ke Bangladesh. Pengalaman bertemu berbagai budaya dan sistem di luar negeri membuatnya memiliki perspektif lebih luas dalam bekerja dan mengambil keputusan.

Menurutnya, bekerja di luar negeri bukan hanya menghasilkan devisa negara, tetapi juga menciptakan generasi yang lebih mandiri, berkarakter, dan siap berkontribusi bagi masyarakat. Ia menekankan bahwa pendapatan devisa dari pekerja migran saat ini menjadi penyumbang terbesar kedua bagi negara setelah sektor migas.

Dalam sesi motivasinya, Wakil Gubernur menyampaikan empat hal utama yang dapat dibentuk melalui pengalaman bekerja di luar negeri:

1. Visi yang lebih jelas, karena pergaulan global memberikan cara pandang yang lebih realistis dan luas.

BACA JUGA :  Toyota Rush Seruduk Tiang listrik, Satu Penumpang Meninggal Dunia

2. Keterampilan nyata (skill) yang dapat diterapkan sepulangnya ke Indonesia untuk membuka lapangan usaha.

3. Perilaku dan etika kerja yang berkembang, terutama dari negara-negara dengan budaya disiplin tinggi seperti Jepang.

4. Karakter mandiri dan berdaya, yaitu karakter yang memberi, membangun, memuliakan, dan mengangkat orang lain.

Hugua menegaskan bahwa bagi calon pekerja migran, penguasaan bahasa asing adalah syarat mutlak. “Kuasai bahasa Inggris dan kuasai juga bahasa negara tujuan. Kalau ke Jepang, ya harus kuasai bahasa Jepang,” tandasnya.

Ia menutup paparannya dengan ajakan kepada para peserta agar mempersiapkan diri sebaik mungkin sebagai calon pekerja migran. “Bekerja di luar negeri memberi saya visi, arah pandang, dan kemampuan menentukan jalan sukses saya sendiri. Bagi saya, itu pengalaman yang membentuk karakter.”

Dengan berbagai kesempatan yang ditawarkan, ia berharap generasi muda Sulawesi Tenggara semakin percaya diri dan bersiap menghadapi peluang global demi masa depan yang lebih sejahtera.

Editor :red

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *