Wartawan Kelompok Rentan, Harus Hati-Hati

LENSASATU.COM – SERANGAN balik virus Covid-19 seakan menggunakan taktik cicak. Diam-diam merayap, hupp: kasus positif Covid-19 di Tanah Air tembus 11. 588 per Sabtu (29/1). Sementara yang meninggal dunia 17 jiwa. Di Jakarta saja, tercatat 5.765 jiwa, lebih 50 % dan 11 yang wafat. Tiga provinsi bertetangga, DKI, Banten, dan Jabar yang terpapar positif kemarin total sekitar 80 % angka nasional.

Padahal, kurang dari 50 hari lalu, kita sudah memasuki masa yang memicu harapan masyarakat, meski tetap harus waspada. Data Senin (13/12/21), misalnya. Satgas Covid19 Indonesia melaporkan ” hanya “106 kasus baru. Itu jumlah terendah sejak Maret 2020. Sebelumnya, angka terendah 107 kasus pada 24 Maret 2021.

OTG di Tengah Kita

” Ini pelajaran buat kita semua untuk senantiasa menerapkan prokes 3 M dengan ketat. Jangan percaya siapapun. OTG itu berkeliaran di masyarakat,” ujar mantan Dubes RI Tantowi Yahya yang minggu lalu terkonfirmasi positif Covid19. Tantowi terpapar Jumat (28/1),pas sebulan setelah tiba di Tanah Air dari posnya di New Zealand, 28 Desember lalu.

Tidak jelas gelombang berapa yang memicu peningkatan kasus covid19 sekarang. Omicron atau bukan, juga belum diketahui persis. Yang pasti serangan Covid19 itu mencemaskan bukan hanya kita, tetapi warga masyarakat seluruh dunia.

Tampaknya, kecemasan serupa, terutama terhadap OTG atau orang tanpa gejala, yang mendorong pengurus Forum Pemred ( FP) membuat seruan resmi kepada seluruh masyarakat, Jumat (28/1). Isi seruannya, meminta secara spesifik agar pemerintah dan pengusaha dalam kegiatan apapun yang melibatkan wartawan, untuk sementara waktu, tanpa kontak fisik. Seruan FP yang ditandatangani Arifin Asydhad (Ketua) dan Titin Rosmasari (Sekretaris)menyarankan pemerintah maupun pengusaha sebaiknya menggunakan media virtual/zoom untuk menyampaikan pesan kepada masyarakat melalui wartawan.

BACA JUGA :  Tak di Sangka! Inilah Sisi Lain Ketua Umum PP Muhammadiyah

“Kami cemas sekali menerima laporan banyak wartawan yang jadi korban virus,” ujar Arifin ketika dihubungi Sabtu (29/1) pagi. “Di kantor kami juga ada wartawan yang terpapar. Yang kami putuskan untuk sementara semua anggota redaksi bekerja dari kantor rumah saja atau WFH, tidak di lapangan maupun di kantor,” tambah Pemimpin Redaksi ”

Kumparan” itu. Kumparan tak sendiri. Arifin menyebut beberapa grup media pers mengalami kondisi serupa, wartawannya positif Covid19. Tri Agung, Ketua Gugus Tugas Covid19 di Kompas Group membenarkan pernyataan itu.

“Di Kompas Group ada sekitar 20 orang yang kena, ” kata Tri Agung. Salah satunya, menimpa wartawan senior, Budiman Tanurejo, Wakil Pimpinan Umum Harian Kompas. Jumat (28/1) siang, Budiman memang menginformasikan pengalaman dirinya terpapar Covid19 di grup WhatsApp Forum Pemred.

“Selasa, 25 Januari, saya tes bersama istri, hasilnya negatif. Hari rabu 26 Januari kami tes lagi. Saya positif, istri saya negatif. Hari Kamis, istri saya tes antigen lagi, hasilnya negatif. Tapi hari Jumat tes lagi karena badan ngak enak,hasilnya positif by antigen dan dilanjutkan dengan PCR. Virus ini nggak jelas dan sangat menular. Pesan saya hanya hati-hati saja,” katanya kepada komunitas Pemimpin Redaksi.

Wartawan senior, Dahlan Iskan, dalam tulisan di “Disway” kemarin mengumumkan ada dua wartawan positif. Satu meninggal minggu lalu, Bambang. Satunya lagi adalah Direktur Utama “Rakyat Merdeka”, Margiono. Mantan Ketua Umum PWI dua priode itu terkonfirmasi positif Covid-19 saat melakukan pemeriksan rutin di RS. Virus yang bersarang memperburuk ginjalnya sehingga Margiono harus cuci darah.

BACA JUGA :  Sirkulasi Elit Politik Lokal Muna Barat

“Sudah tiga hari ditidurkan di ICU,” tulis Dahlan. Tapi, Sabtu (29/1) malam, direksi “Rakyat Merdeka”, Ratna Susilowati, menginformasikan kondisi Margiono membaik.

“Kondisi Pak Margiono alhamdulillah makin baik. Laporan dari dokternya saturasi bagus, semua parameter menunjukkan perbaikan. Mohon doa Bang IB,” kata Ratna yang saya hubungi via WhatsApp.

Di masa pandemi profesi wartawan termasuk rentan. Profesi ini tidak termasuk PPKM. Maksudnya, tidak masuk golongan yang dibatasi aktifitasnya di lapangan. Itu yang menjelaskan, mengapa virus Covid19 telah merenggut nyawa sedikitnya 2.000 jurnalis di 94 negara sejak Maret 2020. ” Itu perkiraan keseluruhan yang rendah,” menurut sebuah laporan yang diterbitkan pada Jumat (7/1)lalu.

Setidaknya 1.400 pekerja media meninggal setelah terpapar virus pada 2021, rata-rata 116 orang setiap bulan, kata Press Emblem Campaign (PEC) yang berbasis di Jenewa. “Jumlah korban sebenarnya tentu lebih tinggi, karena penyebab kematian jurnalis terkadang tidak ditentukan, atau kematian mereka tidak diumumkan,” kata kelompok itu.

Di Indonesia pun tercatat puluhan wartawan yang meregang nyawa sejak pandemi. Yang terpapar positif, ribuan. Namun, angka pastinya hanya Tuhan yang tahu. Sebab tidak ada satu pun instansi yang mencatat khusus kematian itu. Kendalanya, banyak yang tidak dilaporkan lantaran tidak bisa dipastikan sebab kematian. Atau juga keluarga tak memberitahu karena khawatir dimakamkan dengan protokol Covid19.

Kembali kepada seruan Forum Pemred. Seruan yang diamini banyak pemimpin dan pekerja media. Para pemred berinisiatif sendiri mengirim via jalur pribadi kepada seluruh pejabat pemerintah. Seruan FP disampaikan kurang sepuluh hari dari perhelatan tahunan Hari Pers Nasional (HPN) 7-9 Februari 2022 di Kendari, Sulawesi Tenggara. Kegiatan yang menurut rencana dihadiri Presiden Jokowi itu akan diikuti sekitar dua ribu wartawan dan tokoh pers dari seluruh Indonesia.

BACA JUGA :  PT GMS Salurkan Bantuan Pembangunan Masjid Desa di Kecamatan Laonti

Arifin menyangkal seruan FP ditujukan secara spesifik kepada panitia HPN 2022. “Pernyataan Forum Pemred bersifat umum. Berlaku sejak saat diumumkan. Acara apa pun dan di mana pun yang melibatkan wartawan hendaknya tidak dengan kontak fisik atau tatap muka,” katanya.

Keselamatan Jiwa Utama

Arifin Asydhad Sang Ketua Forum Pemred tak hanya diamini komunitas jurnalis, tetapi juga dipuji. Dinilai lebih tanggap dibandingkan Mendikbud Nadiem Makarim yang mingkem hingga sekarang menghadapi serangan balik Covid-19. Nadiem membiarkan saja anak-anak menjadi “bumper” untuk head on dengan virus ganas. Termasuk siswa yang dari segi umur, belum bisa divaksin. Para pelajar itu sejak awal tahun telah mengikuti Pembelajaran Tatap Muka (PTM) 100% di sekolah. Padahal, korban dari kalangan pelajar sudah berjatuhan. Tidak kurang 90 sekolah tercatat terpaksa ditutup minggu lalu.

“Saya tahu peran penting wartawan mengawal penyelenggaraan negara. Namun, dalam pandemi, justru wartawan itu sangat rentan menghadapi musuh seperti virus Covid19 yang tidak berujung pangkal ini. Atas pertimbangan itu kami buat seruan untuk mengingatkan seluruh masyarakat, bahwa keselamatan jiwa jauh lebih penting dari segalanya, ” papar Ketua Forum Pemred itu. Setuju? (int)

Editor : Abhy

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.